Senin, Maret 23, 2009

Beramal itu Mudah

dari sebuah survey kecil dengan tajuk “menurutmu, pahala apa yang paling mudah?” diperoleh mayoritas (delapan terbanyak) jawaban dengan urutan sebagai berikut:
1. senyum
2. dzikir
3. mendoakan orang
4. tidur
5. berniat baik
6. salam
7. mencintai orang karena Allah
8. sholat

ada sebuah jawaban yang cukup menarik untuk dibahas lebih dalam disini: membaca qur’an. argumen ini berangkat dari nilai pahala membaca qur’an, yaitu satu pahala untuk satu huruf. tidak sampai di situ saja, tiap pahala akan dibalas dengan sepuluh kebaikan.

mari berhitung kasar. dalam satu baris mushhaf pojok (jenis mushhaf yang pojok kanan atas adalah selalu awal ayat sedangkan pojok kiri bawah adalah selalu akhir ayat) terdapat sekitar 40 huruf (diambil sebuah sampel, yaitu baris pertama halaman kedua surat al-baqoroh). dalam satu halaman mushhaf terdapat 15 baris. artinya satu halaman terdiri dari 600 huruf. berarti dalam satu juz (20 halaman) terdapat total 12.000 huruf.

seorang dapat tilawah satu juz (secara tartil) dalam waktu sekitar 35 menit. dengan kata lain, dengan membaca qur’an kita akan memperoleh 12.000 pahala = 120.000 kebaikan dalam 35 menit saja! dan konsekuensi sebuah pahala/kebaikan itu bervariasi, dari mulai penghapus dosa, pemberi keberkahan, pengangkat musibah, sampai pemberat timbangan akhirat.

nah, dengan melihat hal tersebut maka alangkah ‘tidak waras’ jika kita masih malas membaca qur’an. betapa entengnya kita membuang 35 menit hanya untuk facebook, mendengarkan mp3, menonton film, nge-blog (ups..), chatting, melamun, dan sebagainya. padahal hari itu belum tilawah sama sekali.

kembali ke inti persoalan. bahwa ternyata beramal itu mudah. hal-hal sederhana semacam senyum dan tidur pun bisa bernilai amal yang berpahala. namun ada kuncinya: niat dan rutin.

beda nilainya antara tidur yang diniatkan agar bisa bangun untuk menonton bola (saja); dengan tidur (yang diawali do’a) yang diniatkan sebagai istirahat sehingga bisa bangun tahajjud serta memperoleh energi untuk aktivitas dan ibadah pada esoknya.

juga beda nilainya antara ikhwan yang tilawah memang benar-benar untuk tujuan tilawah (yakni: ilmu, amal, pahala, munajat, dan obat -insyAllah akan dibahas pada tulisan yang lain) dibanding ikhwan yang tilawah karena di tempat itu ada akhwat ‘incarannya’ sehingga dia diperhatikan.

niat (ikhlash dan ibadah) membuat amal-amal kecil menjadi besar nilainya; sebaliknya niat (riya, ujub, dll.) juga membuat amal-amal besar menjadi kecil nilainya.

kunci selanjutnya: rutin. tilik bagaimana bilal dijamin masuk surga karena wudhu (dan sholat syukur wudhu) yang rutin dilakukannya. sesungguhnya amalan yang kecil tapi rutin itu lebih dicintai Allah. masing-masing dari kita tentu lebih tahu, amal ‘kecil’ apa yang bisa rutin kita lakukan.

sebagai penutup, sangat indah kata-kata yang dipopulerkan aa gym, “mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang juga”. dan jangan lupa, semua kemudahan itu juga adalah bentuk nikmat dari Allah yang harus disyukuri.

wAllahu muwafiq.

Cinta dan Anticinta

cinta, sebuah kata yang sangat familiar dan mesti semua orang pernah merasakannya. jatuh cinta, adalah frase ungkapan yang pasti selalu menjadi salah satu tema kehidupan. definisinya pun beragam, setiap yang kita cinta dengan tulus berarti kita telah terpaut, memprioritaskan, membela, mengasihi, mengikuti, ingin dekat, rindu, dan sebagainya. yang kesemuanya teraktualisasi melalui niat, ucapan, maupun perbuatan. yang darinya muncul sumber kekuatan untuk membahagiakan dan motivasi bertanggung jawab lalu melahirkan amalan-amalan hati dan anggota tubuh. bahwa agaknya tepat pendapat ibnu qayyim, “tidak ada batasan tentang cinta yang lebih jelas daripada kata ‘cinta’ itu sendiri”.

ada hitam ada putih. jika ada cinta maka tentu ada lawannya. yang kecintaan itu tidak sempurna tanpa menolak lawannya itu dengan sempurna pula. perasaan saling menjauhi, berlepas, berselisih, dan semacamnya. kita kenal istilah ‘benci’. namun mengacu pada pendapat ibnu qayyim di atas, maka kita sebut saja lawan dari ‘cinta’ dengan kata ‘anticinta’.

umum berpendapat cinta dan anticinta bukan perkara remeh, ia adalah suatu yang luhur. tapi ketahuilah mungkin ia ternyata lebih luhur dari anggapan selama ini. mencintai karena Allah dan meng-anticinta-i karena Allah, sebuah perkara aqidah. artinya cinta dan anticinta adalah kewajiban syariat.

cinta dan anticinta adalah bagian dari syahadat ‘laa ilaaha illa Allah’. sebuah ikrar peng-ilah-an (yang dipuja, yang dijunjung, yang dikagumi, yang mendominasi, dan sejenisnya) hanya kepada Allah dan berlepas diri dari ilah selain Allah. ia adalah uluran tali iman yang paling kokoh yang disebutkan dalam hadits yaitu menolong dan memusuhi serta cinta dan anticinta hanya karena Allah.

ia-lah syarat untuk bisa merasakan manisnya iman. dengan menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lain. dengan mencintai yang lain dalam kerangka kecintaan karena Allah. dengan sangat anticinta kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api neraka. cinta dan anticinta yang menyempurnakan iman.

cintalah yang menjadi asas pembangun masyarakat islam, dimana tidak sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri. yang seorang menjadi kafir kepada Allah jika mencintai selain Allah dan agama-Nya serta meng-anticinta-i Allah, agama-Nya, dan pemeluknya.

masih berpendapat bahwa cinta dan anticinta adalah seperti apa yang tergambar pada kisah-kisah picisan maupun film-film kurang mutu yang berterbaran di buku, novel dan/atau media?! lupakan! masih beranggapan bahwa cinta adalah sebatas perasaan tulus-suci dua lawan jenis yang menginginkan kebahagiaan bersama?! kurang tepat! masih berparadigma bahwa cinta adalah untuk kasih sayang manusiawi kepada orang-orang dekat, orang tua, dan sahabat?! belum cukup!

secara umum ada tiga macam pihak yang padanya kita tujukan apresiasi cinta dan anticinta, yaitu:
1. yang berhak mendapat cinta secara mutlak: yang beriman kepada Allah dan rasul-nya serta menjalankan syiar-syiar agama dengan ikhlas karena-Nya
2. yang berhak mencapat cinta dan anticinta sekaligus: muslim yang bermaksiat yang mengabaikan sebagian kewajiban dan mengerjakan hal-hal yang diharamkan. tidak boleh mendiamkan, wajib menasihati dan mencegah serta dierintahkan kepada yang ma’ruf dan dilarang dari yang munkar, bahkan berlaku hukuman dan celaan sehingga mereka bertaubat.
3. yang berhak mendapat anticinta secara mutlak: yang melakukan kekufuran syar’i baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. dari kalangan muslim jika ia antara lain berdo’a dan tawakkal kepada selain Allah, mencaci Allah, rasul, agama, termasuk mencela quran, serta memisahkan agama dari kehidupan (sekuler) karena meyakini bahwa agama tidak sesuai zaman. dari kalangan non-muslim, jika ia damai maka kita hanya benci akan ketidakberimanan mereka sedangkan dalam interaksi sosial tetap saling menebar rahmat, jika ia memerangi maka kita wajib memerangi dan tidak membiarkan mereka berbuat kerusakan.

kemudian setelah akrab dengan kalimat ‘cinta karena Allah’, lalu bagaimana sebenarnya bentuk realisasi cinta karena Allah itu?
1. membela, menolong dengan jiwa-harta-lisan, membahagiakan serta ikut bahagia jika si dia/mereka bahagia dan menghindarkan kesedihan serta ikut sedih jika mereka sedih
2. mencintai segala yang dicintai untuk diri sendiri berupa kebaikan (berusaha mendatangkan kebaikan untuk si dia/mereka) dan menolak keburukan, tidak mengolok-olok, bersemangat dalam mencintai dan bergaul dengan si dia/mereka
3. memenuhi hak si dia/mereka seperti berkasih sayang, mendoakan, memohon ampunan baginya, mengucap salam, tidak merugikan dalam bermuamalah, menjenguk, dan mengiring jenazahnya
4. tidak mengganggu, mendamaikan perselisihan di antara mereka
5. bergabung bersama dalam jamaa’ah, tidak berpisah, tolong menolong atas kebajikan dan taqwa, amar ma’ruf nahi munkar

sungguh islam adalah agama yang penuh cinta dan di sisi lain juga memiliki anticinta atas dasar kebenaran. siapa yang tidak mencintai maka ia tidak akan dicintai. kita semua mendambakan bisa menjadi orang yang dicintai karena Allah. oleh karena itu hendaknya terlebih dahulu kita berusaha mencintai orang lain karena Allah. kemudian berusaha menjadi pribadi yang memang layak untuk dicintai karena Allah. tentunya pembahasan ini juga mencakup kasus yang mengusik kaum muda: cinta kekasih.

semoga Allah menganugerahkan rasa cinta dan anticinta yang haq ke dalam hati kita semua.

[terinspirasi dari pengalaman acara 'survival'. saat panitia menyuruh peserta untuk membuat pesan terakhir karena tidak menjamin apakah pada prosesnya akan selamat hidup atau tidak. teruntuk orang-orang yang kutulis di lembar wasiat kala itu: aku cinta kalian semua karena Allah]

Senin, Februari 02, 2009

Etika Makan dan Minum

mengenai makan-minum sambil berdiri, ada dua landasan pokok:

“dari Anas, bahwa Rasulullah telah melarang seseorang sambil berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas, “Bagaimana jika makan sambil berdiri?” jawabnya, “itu lebih jelek dan kotor.” [HR Muslim]

dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah. Maka beliau lalu minum dalam keadaan berdiri.” [HR Bukhari-Muslim]

di satu sisi melarang, di sisi lain membolehkan, dan keduanya memenuhi syarat. madzhab maliki membolehkan. dalam madzhab syafi’i, makan-minum sambil berdiri dinilai menyalahi keutamaan. pada madzhab hanafi, makan-minum sambil berdiri adalah dibenci. sedangkan untuk madzhab hambali, ada yang mengatakan ‘tidak disukai’ ada pula yang membiarkan.

kemudian kesimpulannya adalah mengambil ‘jami’ul khayr’ (salah satu metoda istimbat hukum) yaitu bahwa makan-minum tidak boleh berdiri (lebih utama duduk), kecuali keadaan uzur dan darurat (misal berdesakan yang sangat). hal ini mencakup kaidah syariat: ‘larangan menjadi boleh ketika ada darurat’.

demikian dari segi syariat. kemudian dari segi hikmah:
1. makan-minum sambil berdiri akan membuat jatuhnya zat tersebut dan menabrak usus sehingga efek yang kontinyu bisa menyebabkan luka pada dinding lambung / usus
2. otot manusia saat berdiri akan bekerja untuk berusaha menyeimbangkan badan. ketegangan syaraf dan otot tersebut membuat sistem pencernaan tidak siap menerima makanan dan / atau minuman. selain itu, kondisi keseimbangan berdiri ini membuat otot kerongkongan mengkerut sehingga kadang menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan sakit jika diberi asupan makanan dan / atau minuman
3. mengkonsumsi makanan dan / atau minuman saat berdiri mengakibatkan reaksi syaraf kelana yang tersebar pada endotel usus. refleksi syaraf secara keras dan tiba-tiba akan menyebabkan disfungsi syaraf dan lebih jauhnya akan memberi kejut pada jantung (bisa pingsan atau mati mendadak)
4. air yang langsung jatuh membuatnya tidak sempat disesuaikan suhunya sehingga mengakibatkan perubahan temperatur lambung yang drastis dan menjalar ke bagian bawah tubuh
5. minum sambil duduk membuat air disaring oleh sfringer. jika berdiri, air tidak akan disaring sehingga langsung menuju kandung kemih yang mengakibatkan pengendapan limbah di ureter yang menimbulkan kristal ginjal

hal yang perlu diperhatikan adalah, syariat terlepas dari hikmah. syariat adalah ketentuan yang Allah berikan sedangkan hikmah adalah kajian dari ulama dan cendekia tentang maksud syariat. contohnya: secara hikmah mungkin kita temukan bahwa babi mengandung cacing pita yang berbahaya sehingga ‘wajar’ jika diharamkan. tetapi haramnya babi mungkin bukan semata-mata karena faktor cacing pita. kalau pun ada babi jenis unggul yang bebas cacing pita, tetap saja ia haram karena ada nash yang jelas dari Allah bahwa babi haram, dan tidak ada embel-embel ‘karena cacing pita’. sama juga kasusnya dengan makan-minum sambil berdiri. jika ternyata analisa medis itu terbukti kurang benar, maka tidak lantas hukumnya menjadi berubah.

wAllahu a’lam.

Rabu, Januari 28, 2009

Pengantar Qiro’at Sab`ah

[materi ini saya sampaikan di acara 'dauroh pembinaan pejuang qur'an' (dp2q) majelis ta'lim (mata) salman yang dilaksanakan pada sabtu 24 januari 2009 di taman firdaus]

qiro’at sab’ah atau qiro’at tujuh adalah macam cara membaca al-qur’an yang berbeda. disebut qiro’at tujuh karena ada tujuh imam qiro’at yang terkenal masyhur yang masing-masing memiliki langgam bacaan tersendiri. tiap imam qiro’at memiliki dua orang murid yang bertindak sebagai perawi. tiap perawi tersebut juga memiliki perbedaan dalam cara membaca qur’an. sehingga ada empat belas cara membaca al-qur’an yang masyhur.

perbedaan cara membaca itu sama sekali bukan dibuat-buat, baik dibuat oleh imam qiro’at maupun oleh perawinya. cara membaca tersebut merupakan ajaran rasulullah dan memang seperti itulah al-qur’an diturunkan. adapun landasannya terdapat pada dua hadits berikut:

Jibril membacakan (Al-Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf. [HR Bukhari – Muslim]

dari umar bin khathab, ia berkata, “aku mendengar hisyam bin hakim membaca surat al-furqon di masa hidup rasulullah. aku perhatikan bacaannya. tiba-tiba ia membaca dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku urungkan. maka, aku menunggunya sampai salam. begitu selesai, aku tarik pakaiannya dan aku katakan kepadanya, ’siapakah yang mengajarkan bacaan surat itu kepadamu?’ ia menjawab, ‘rasulullah yang membacakannya kepadaku. lalu aku katakan kepadanya, ‘kamu dusta! demi Allah, rasulullah telah membacakan juga kepadaku surat yang sama, tetapi tidak seperti bacaanmu. kemudian aku bawa dia menghadap rasulullah, dan aku ceritaan kepadanya bahwa aku telah mendengar orang ini membaca surat al-furqon dengan huruf-huruf (bacaan) yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku, padahal engkau sendiri telah membacakan surat al-furqon kepadaku. maka rasulullah berkata, ‘lepaskanlah dia, hai umar. bacalah surat tadi wahai hisyam!’ hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan.’ ia berkata lagi, ‘bacalah, wahai umar!’ lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan rasulullah kepadaku. maka kata rasulullah, ‘begitulah surat itu diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya.’” [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Jarir]

mengenai makna dari ‘tujuh huruf’ tersebut ada dua pendapat yang kuat. pertama adalah tujuh macam bahasa dari bahasa-bahasa arab mengenai satu makna: Quraisy, Hudzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. kedua adalah tujuh macam perbedaan: Perbedaan isim, Perbedaan fi`il, Perbedaan i`rab, Perbedaan taqdim dan ta’khir, Perbedaan naqis dan ziyadah, Perbedaan ibdal, dan Perbedaan lahjah (tafkhim - tarqiq, fathah - imalah, izhar - idgham, hamzah - tashil, mad - qashr, isymam).

hikmah diturunkannya al-qur’an dengan tujuh huruf antara lain: Memudahkan bacaan dan hafalan bagi bangsa ummi, Bukti kemukjizatan Al-Qur’an dari sisi kebahasaan orang arab, dan Kemukjizatan dalam aspek makna dan hukum (ketujuh huruf tersebut memberikan deskripsi hukum yang dikandung al-qur’an dengan lebih komprehensif dan universal).

sampai bahasan disini menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan ‘tujuh huruf’ bukanlah ‘qiro’at tujuh’. oleh karena itu, anggapan bahwa ‘tujuh huruf’ menjelaskan huruf pertama adalah qiro’at imam nafi’, huruf kedua adalah qiro’at imam ‘ashim, dan seterusnya yang mengasosiasikan ‘tujuh huruf’ dengan tujuh imam qiro’at adalah pendapat yang keliru.

definisi dari qiro’at adalah Ilmu yang membahas tentang tata cara pengucapan Al-Qur’an berikut cara penyampaiannya, baik yang disepakati (ulama ahli Al-Qur’an) maupun yang terjadi perbedaan pendapat, dengan menisbatkan setiap wajah bacaannya kepada seorang imam qiro’at. hal ini sama sekali berbeda dengan qiro’at yang berarti cara melagukan bacaan al-qur’an.

syarat sah suatu qiro’at agar dapat diterima adalah: Sanad yang mutawatir, Cocok dengan Rasm Utsmani, serta Cocok dengan kaidah bahasa arab. tingkatan sanad qiro’at antara lain: Mutawatir (sanad shahih, perawi banyak dan bersambung sampai Rasulullah), Masyhur (perawi tidak sebanyak mutawatir), Ahad (sanad shahih, tidak cocok dengan Rasm Utsmani dan kaidah bahasa arab), Syadz (sanad tidak shahih), Mudraj (sisipan), Maudhu` (buatan). qiro’at yang aman dan boleh untuk diamalkan adalah qiro’at yang mutawatir dan masyhur.

urgensi qiro’at adalah menjaga kelestarian al-qur’an sebagaimana ia diturunkan. ulama menentukan hukum mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan qiro’at yaitu fardhu kifayah. terkait hal ini, majelis ulama indonesia pernah mengeluarkan fatwa pada tahun 1983 yang berisi: Qiro’at tujuh adalah sebagian dari ulumul qur’an yang wajib dikembangkan dan dipertahankan eksistensinya; Pembacaan qiro’at tujuh dilakukan pada tempat-tempat yang wajar oleh pembaca yang berijazah.

hikmah qiro’at tujuh antara lain: Menunjukkan terpeliharanya Al-Qur’an dari perubahan dan penyimpangan, Meringankan dan memudahkan umat Islam untuk membaca Al-Qur’an, Bukti kemukjizatan Al-Qur’an dari segi kepadatan makna (ijaz), Saling menjelaskan perkara yang global diantara qiro’at. oleh karena itu, salah satu kaidah penafsiran adalah dengan mengkaji ilmu qiro’at untuk memperoleh makna dari suatu ayat.

sudah disebutkan bahwa ada tujuh imam qiro’at dan empat belas perawi dengan sanad mutawatir yang bacaannya masyhur. mereka dipilih karena ketinggian ilmu, sifat amanah, dan lamanya mendalami qiro’at. ketujuh imam (bersama perawinya) adalah:

  1. Abu `Amru bin Al-Ala’ (perawinya adalah Ad-Duri dan As-Susi)
  2. Ibnu Katsir (perawinya adalah Al-Bazzi dan Qumbul)
  3. Nafi` Al-Madani (perawinya adalah Qalun dan Warsy)
  4. Ibnu Amir Asy-Syami (perawinya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan)
  5. `Ashim Al-Kufi (perawinya adalah Syu`bah dan Hafsh). qiro’at imam ashim riwayat hafsh inilah yang biasa kita baca.
  6. Hamzah Al-Kufi (perawinya adalah Khalaf dan Khalad)
  7. Al-Kisa’i Al-Kufi (perawinya adalah Abul Harits dan Ad-Duri)

dalam qiro’at juga dikenal apa yang disebut tariqah. tariqah berarti jalan pengambilan ilmu qiro’at. ada beberapa ulama yang mengumpulkan dan mengkaji ilmu qiro’at, diantaranya: Asy-Syatibi dengan kitabnya ‘Hirzul Amani wa Wajhut Tahani’ (disebut tariqah syatibiyah), dan Al-Jazari dengan kitabnya ‘Al-Misbah’ dan ‘Al-Kamil’ (disebut tariqah jazariyah.

demikian, wAllahu a’lam.

Senin, Januari 26, 2009

Quran Pelipur Laraku

ada dua hal yang dideskripsikan oleh Allah sebagai 'syifa' (obat). yang pertama adalah madu, dan yang kedua adalah al-qur'an. madu sebagaimana kita ketahui adalah obat bagi penyakit-penyakit fisik. lain dengan al-qur'an yang berfungsi sebagai obat bagi penyakit-penyakit jiwa.

iri, dengki, amarah, kesedihan adalah contoh gangguan-gangguan yang menerpa hati. dada yang sempit (dalam arti kiasan) merupakan akibat dari penyakit dalam jiwa. pada taraf yang lebih tinggi, keburukan hati berimbas pada keraguan hingga kemunafikan. sesungguhnya semuanya itu dapat mengancam setiap manusia kecuali bagi mereka yang memiliki 'antibiotik'-nya. dan serum itu diperoleh dari al-qur'an.

bagaimana cara agar memfungsikan al-qur'an sebagai obat? dengan berinteraksi dengannya. interaksi yang bagaimana? interaksi yang melibatkan lisan, akal, dan tentunya hati. maksud melibatkan lisan adalah tartil dalam membacanya, memenuhi haq-haq tiap hurufnya sehingga rahmat itu turun. maksud melibatkan akal adalah memahami maksud dari apa yang dibaca, minimal tema umum dari surat atau penggalan yang dibaca. sedangkan maksud melibatkan hati adalah meresapi dan mengaktualisasi maknanya.

pernahkah suatu ketika sedang gundah kemudian kita menghibur diri dengan al-qur'an? saat sedang sedih kemudian kita atasi dengan membaca al-qur'an? saat sedang ragu kemudian kita atasi dengan memahami al-qur'an? saat sedang marah kemudian kita atasi dengan meresapi al-qur'an?

kenikmatan seperti itu dapat diperoleh dengan membiasakan memiliki 'waktu pribadi wajib bersama al-qur'an'. dalam seminggu luangkan satu waktu total untuk berdua bersama al-qur'an. bisa satu hari, setengah hari, atau satu jam yang khusus. bisa digunakan untuk tilawah, mendengarkan murottal, mendengarkan ceramah al-qur'an, membaca terjemahan, atau membaca tafsir.

seperti ungkapan nabi ya'qub dalam surat yusuf: "hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku."

Jumat, Januari 23, 2009

Quran Temanku Mengisi Waktu

dalam menjalani aktivitas sehari-hari, seseorang dituntut untuk memiliki kondisi diri yang prima sehingga segala kegiatan dapat dijalani dengan baik. diri manusia terdiri dari tiga aspek yaitu jasad, akal, dan ruh. kondisi yang prima seutuhnya akan terbentuk dari kekuatan jasad, kecerdasan akal, dan kestabilan ruhiyah. aspek yang disebut terakhir menjadi yang utama karena dengan keterbatasan jasad dan akal, ruh menjelma sebagai faktor penentu bagi kondisi seseorang. saat jasad kehabisan tenaga serta akal kehilangan kejernihannya, kestabilan ruhiyah akan berbicara untuk me-recover dan mengembalikan ketangguhan pribadi.

interaksi dengan quran adalah sarana yang penting dalam penjagaan kestabilan ruhiyah. bentuk interaksi dengan quran yang paling sederhana adalah tilawah, yaitu membacanya. meskipun tampak sederhana namun efek yang timbul bukan sesuatu yang remeh. lagipula pada prakteknya ternyata tidak mudah untuk tetap konsisten dalam tilawah quran. kadang muncul pertanyaan, kapan waktu untuk tilawah sedangkan tugas lain begitu banyak? ini adalah tantangan dalam menyiasati waktu. sesungguhnya kondisi kesibukan itu akan terus ada sepanjang hidup bahkan semakin lama agenda kesibukan akan semakin bertambah. ini masalah komitmen. jangan mencari pembenaran atas lemahnya komitmen dengan berlindung di balik was-was syetan berupa alasan sibuk, tidak sempat, acara padat, dan lain-lain.

biasakanlah untuk memiliki bacaan quran harian. pancang dan penuhi targetan jumlah tilawah setiap harinya. ukur kemampuan diri agar bisa konsisten. tilawah satu halaman dalam satu hari yang berkelanjutan lebih baik daripada tilawah dua halaman tapi bolong-bolong serta tidak konsisten, hari ini iya, lusa tidak, kemarin terpenuhi target, besok tidak, dan seterusnya. kemudian lambat laun ditingkatkan secara bertahap sehingga bisa mencapai ideal satu juz dalam sehari. tapi sekali lagi, intinya adalah bacaan harian. yang diminta adalah satu juz perhari, bukan tiga puluh juz sebulan. jika targetnya sebatas tiga puluh juz sebulan, bisa saja hari ini tidak tilawah kemudian besok ditombok jadi dua juz.

kembali disinggung di sini bahwa pada prakteknya tidak mudah untuk konsisten dalam tilawah harian. bahkan ’semudah’ apapun targetan tersebut tetap saja tidak lepas dari goyah. perlu dilakukan penyiasatan agar tagetan harian terpenuhi dan berkelanjutan. beberapa strategi yang dapat dipakai sebagai kiat menjaga tilawah antara lain:

pertama, selalu membawa mushhaf. hal ini akan memudahkan dalam pemenuhan target. jika suatu ketika tiba-tiba mendapatkan keluangan waktu yang tidak direncanakan maka dapat langsung tilawah. selain itu, akan juga timbul rasa malu dan sayang jika sudah repot-repot membawa mushhaf tapi tidak dibaca.

kedua, porsikan waktu yang memang khusus untuk tilawah. jangan memberikan waktu ’sisa’ untuk quran. maksudnya jangan tilawah sesempatnya sehingga jika tidak sempat maka tidak tilawah. berikan waktu wajib tilawah dalam rangkaian agenda harian. misalnya setiap selesai sholat atau saat jam-jam tertentu. waktu khusus tersebut jangan diganggu-gugat. jika ada yang mengajak berkegiatan lain saat itu, katakan dengan tegas “maaf, ini waktu saya untuk tilawah”.

ketiga, cari tempat, suasana, dan waktu yang dirasa nyaman untuk tilawah. hindari kondisi yang membuat malas untuk membaca quran. tiap pribadi memiliki kecenderungan berbeda terkait suasana ini. ada yang nyaman tilawah pada waktu sepertiga malam, ada yang sehabis shubuh, ada juga yang menikmati tilawah saat tengah hari. ada yang suka tilawah di masjid, ada yang sambil berbaring di kamar, ada juga yang senang tilawah di depan pemandangan.

keempat, jika lalai memenuhi target pada hari itu, lakukan qadha. misalnya target adalah dua halaman, tetapi hari ini dengan benar-benar terpaksa hanya bisa tilawah satu halaman, maka esoknya harus membaca tiga halaman. dengan demikian akan muncul perasaan ‘berat’ saat meng-qadha sehingga terpacu untuk tetap memenuhi target harian. namun jangan jadikan qadha sebagai kebiasaan. jangan menganggap remeh saat satu hari tidak memenuhi target tilawah.

kelima, berusaha memperlancar tilawah (balajar tahsin) sehingga tidak berat melakukannya. selain itu sebenarnya cara paling efektif untuk memperlancar bacaan adalah justru dengan sering membaca. jarang membaca malah akan membuat ‘lidah menjadi tebal’ sehingga susah melafalkan ayat-ayat. tapi tidak lancarnya membaca jangan jadi alasan untuk tidak tilawah. bukankah bagi yang terbata-bata dalam membaca quran mendapat dua pahala?!

Orang yang pandai membaca Al Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. [HR Bukhari dan Muslim]

keenam, cari komunitas yang mendukung. contohnya adalah kelompok mentoring. selain di sana bisa saling mengingatkan dan memotivasi, mentoring juga dapat memacu pemenuhan target. misalkan jika ada yang belum memenuhi target tilawah pribadi dikenai ‘hukuman’ tidak boleh pulang usai mentoring sebelum menyelesaikan targetannya.

ketujuh, rajin mengikuti majelis dan kajian quran. dari sana akan diperoleh pemahaman, wawasan, dan urgensi interaksi dengan quran. sudah menjadi karakter manusia dimana ketertarikannya akan tumbuh jika ia mengetahui kegunaan dari sesuatu tersebut terutama bagi dirinya. hal ini dapat memberi dan menjaga semangat dalam tilawah.

kedelapan, perbanyak amal dan jauhi maksiat. setiap amal shaleh akan memberi energi untuk melaksanakan amal shaleh lainnya (termasuk membaca quran). sedangkan maksiat yang satu akan melahirkan maksiat yang lainnya (termasuk menjauhi quran).

kesembilan, berdoalah kepada empunya quran, Allah. mohon keistiqomahan dalam berinteraksi dengan quran. karena kedekatan dengan quran adalah nikmat dariNya.

kesemuanya itu harus dilakukan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh sehingga kemudian tilawah menjadi kebutuhan pribadi. tanda-tanda sudah terlatih adalah jika hari itu belum tilawah akan muncul perasaan gelisah dan merindukan membaca quran. jika bertanya lagi tentang manfaatnya, bukankah pahala membaca quran adalah pahala yang paling mudah didapat?!

Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat. [HR Tirmidzi]

Selasa, Januari 20, 2009

Israel Tidak Salah

israel sudah berbuat sesuai dengan yang semestinya mereka perbuat. karena sesungguhnya mereka ditakdirkan menjadi pihak yang paling keras memusuhi kaum muslimin. mereka tidak akan berhenti membuat fitnah/penindasan hingga dapat menghancurkan islam atau mengembalikan kepada kekafiran. justru kita kaum muslimin yang tidak berbuat yang semestinya, yaitu menjadi penolong antara yang satu dengan lainnya. kaum muslimin seolah tidak merasakan yang seharusnya mereka rasakan: ikut merasa sakit jika muslim lain merasa sakit, bagaikan satu tubuh.

kenapa itu bisa terjadi? satu hal, karena berpecah belah. dan parahnya lagi terpancing provokasi sehingga terjerumus ke dalam perpecahan itu. di afghanistan masih terjadi krisis. di baghdad masih ada berita pemboman. ada lagi pemberitaan mengenai konflik antara yaman dengan al-qaeda. tampak sekali musuh-musuh islam mempartisi perjuangan umat islam dengan membuatnya berjuang untuk golongannya masing-masing. dan yang lebih parah lagi, membuat golongan-golongan islam saling menyalahkan dan tidak dukung mendukung.

saling men-tahdzir, saling menyalahkan, fatah dengan hamas, syiah dengan sunni, salafiyyah dengan hizbiyyah dan/atau sururiyyah. harokah yang satu dengan yang lain. belum lagi munculnya aliran-aliran sesat yang terindikasi juga merupakan inisiasi dari penentang islam. sepertinya mereka meyakini hadits nabi:

“Ada tiga hal yang kudoakan kepada Allah - di tempat ini. Dua hal dikabulkan oleh-Nya dan yang satu lagi tidak dikabulkan. Pertama, kumohonkan kepada Allah agar umatku jangan dibinasakan karena kekurangan (kelaparan). Permohonanaku ini dikabulkan Allah. Kedua, kupintakan agar umatku jangan disiksa (dibinasakan) dengan musibah karam (ditenggelamkan). Permintaanku yang kedua ini dikabulkan juga. Ketiga, kudoakan agar umatku jangan binasa karena perpecahan (permusuhan) sesama mereka. Doa yang ketiga ini tidak diperkenankan.” [HR Muslim]

penindasan secara langsung tidak akan menghancurkan islam. tidak ada sejarahnya islam dikalahkan dengan penindasan. sejak zaman umat terdahulu, zaman Rasulullah, bahkan zaman indonesia dijajah (lihat perjuangan muslimin aceh atau pangeran diponegoro). saat ini pun tidak tampak kelemahan pada penduduk palestina. mereka begitu tegar menghadapi dua kemungkinan yang sama mulianya: menang atau syahid. mereka begitu semangat mengangkat jenazah mujahid dengan seruan ‘laa ilaaha illAllah’, dan kadang diteriakkan pekik ‘Allahu akbar, walillahilhamdu’.

fenomena palestina ini justru di lain sisi menambah keimanan kita kepada Allah dan ketetapan-Nya. fenomena ini seakan menunjukkan pada umat islam bahwa islam lemah karena berpecah. masih saja memikirkan perselisihan padalah secara prioritas krisis palestina lebih darurat. pembantaian vs bid’ah, mana yang harusnya disoroti? apakah mereka yang keislamannya dianggap menyimpang atau berbeda manhaj itu tidak berharga nyawanya dan pantas dibunuh dibandingkan orang-orang kafir? sementara selain itu masih saja ada yang sibuk dengan pemilu dan popularitas serta kesuksesan golongan. ini bukti bahwa umpan makar yahudi (yang memang adalah tabiat mereka sejak jaman nabi musa) telah kita konsumsi dengan nikmat.

apalagi yang menghalangi untuk bersatu dan berperang menolong mereka?mesir merasa terikat perjanjian camp david?saudi merasa terikat hubungan ‘kerabat’ dengan amerika?negara islam takut diboikot barat?takut dibalas serangan sehingga malah hancur sendiri?

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu?. Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. [QS At-Taubah (9) : 13-14]

apa yang akan kita (mahasiswa) lakukan?
jangan sibuk kuliah, kerja dan, beraktivitas yang hanya dimaknai untuk duniawi pribadi. jangan hanya berlabel aktivis hanya untuk memudahkan proposal nikah dan/atau pencapaian jabatan struktural. maknai untuk ummat.

jangka pendek,
lakukan semampu kita dari solusi 6D: do’a, diskusi, donasi, demonstrasi, diplomasi, darah.

http://www.lingkaran.org/palestine-strikes-back.html

jangka panjang,

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka quwwah (kekuatan) apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). [QS Al-Anfal ( 8 ) : 60]

rekayasa sistem modulasi untuk elektronika komunikasi adalah ‘quwwah’.
rekayasa sistem instrumentasi untuk pengendali alat adalah ‘quwwah’.
rekayasa genetika untuk ketersediaan pangan adalah ‘quwwah’.
art-sains-technology adalah ‘quwwah’.

israel tidak salah, kita yang salah.