Sabtu, Desember 20, 2008

Tips Menjaga Hafalan

"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (Sunnah Nabimu). Sesungguhnya, Allah adalah Mahalembut lagi Maha Mengetahui." [QS al-Ahzab: 34]

"Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur'an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh." [HR. Tirmidzi]

Hafalan quran merupakan sesuatu yang sangat berharga. Sangat rugi apabila kita kehilangan ayat-ayat yang pernah kita hafal. Bahkan ulama mengatakan perihal mana yang lebih penting: menambah hafalan atau menjaga hafalan, maka yang perlu diprioritaskan adalah menjaga hafalan. Tentu sangat utama apabila kita bisa konsisten menambah hafalan dan juga tetap menjaga yang sudah dihafal dengan baik.

Banyak sekali cara-cara untuk menjaga hafalan quran. Ada beberapa buku yang membahas tentang itu. Pada tulisan ini, saya hanya akan membagi kiat menjaga hafalan yang selama ini saya praktekan dan, alhamdulillah, cukup manjur bagi saya dalam menjaga hafalan quran yang saya miliki. Intinya adalah, isi waktu 'bengong' (dimana tidak memungkinkan untuk mengerjakan suatu aktivitas lain) dengan mengulang-ulang hafalan.

Tips yang pertama: ketika dalam perjalanan (ke kampus atau pulang ke kosan misalnya) baik berjalan kaki maupun naik kendaraan, temani perjalanan kita dengan lantunan ayat-ayat yang sudah kita hafalkan. Tanpa terasa dengan cara itu, saat sampai ke tempat tujuan kita sudah berhasil mengulang setengah sampai satu juz hafalan.

Kiat yang kedua: misalkan kita terbiasa olahraga lari pagi, iringi derap lari kita dengan mengulang hafalan. Jika kita memiliki hafalan satu juz, maka jangan berhenti berlari sebelum selesai mengulang satu juz. Atau jika kita menargetkan lari 3 km, maka selama lari kita mengulang hafalan, kemudian jika belum selesai sebanyak jumlah ayat yang dihafal, lanjutkan mengulang hafalan saat duduk atau istirahat sehabis lari.

Demikian, mudah-mudahan tips sederhana ini bisa membantu dalam menjaga hafalan quran.

Mencari Kebenaran?

terus terang sy geli sambil-senyum-nyaris-tertawa-agak-menangis liat
tulisan ttg ‘mencari kebenaran’,
bukankah dg islamnya kita berarti (insyAllah) kita sudah menemukan
kebenaran?!
permasalahannya bukan ‘mencari kebenaran’ tapi bagaimana agar menapaki
‘jalan kebenaran’ itu dengan baik dan istiqomah,
jika menyebut ayat:
“tunjukilah kami jalan yg lurus” [qs 1:6]
sungguh penafsiran paling bagus (menurut sy) yg pernah sy pelajari ttg
ayat tadi adalah:
“berilah kami hidayah ke jalan yg lurus dan berilah kami hidayah dalam
menapaki jalan yg lurus tersebut”

kemudian dihubungkan dengan ayat:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami ialah Allah’
kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka
dengan mengatakan ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih’
dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah
kepadamu”
[qs 41:30]
umar bin khattab mengartikan ‘istiqomah’ sebagai:
“tetap tegak berjalan dan tidak berjalan seperti tupai yang sesekali
berhenti kemudian menengok kesana kemari”

dan ayat [qs 1:6] tadi menurut ulama adalah do’a yg paling baik..

lalu apa maksudnya ucapan “selamat mencari” atau “silakan buktikan
sendiri”?!
jangan seolah-seolah di antara sekian pergerakan itu ada yg paling
benar kemudian tujuan pencariannya adalah berafiliasi dengan yg paling
benar itu..
(mungkin lebih tepatnya: paling cocok dan nyaman bagi pribadi masing2)

“Setiap anak adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang
berbuat salah adalah yang orang yang bertaubat”
[HR. Tirmidzi, Ahmad,
Ibnu Majah dan ad Darimi]

manusia itu rentan khilaf,
begitu juga sistem pergerakan hasil ijtihad manusia pasti punya cacat,
sangat naif jika seorang berkapasitas tulabi mencukupkan sumber ilmu
dari satu pembinaan saja,
galilah ilmu dan tambal apa yg bolong dr pemahaman kita..

anekdot,
fulan1: kaifa haluk, akh?
fulan2: alhamdulillah ana sehat2
ustadz: antuma tau konjugat mu’tal wauw?
fulan 1&2: apaan tuh?
ustadz: wah, dari obrolannya sy kira kalian jago bahasa arab
fulan 1&2: ampun, ustadz

landasi aktivitas dengan ilmu,
jangan dulu berbicara soal (misalnya) fiqh da’wah jika perkara aqidah
saja tidak tau..

“Wahai para pengemban ilmu, ber-amal-lah kalian dengan ilmu itu.
Sebab sesungguhnya seseorang disebut `alim karena dia berilmu kemudian
beramal dan ilmunya selaras dengan amalnya. Karena kelak akan ada
beberapa kaum yang mengemban ilmu tapi ilmunya tidak pernah melewati
tenggorokkannya, keadaan mereka ketika mereka menyendiri berbeda
ketika mereka berada di antara orang banyak, amalnya berbeda dengan
ilmunya, mereka duduk berhalaqah-halaqah, satu sama lain saling
bangga dengan halaqah-halaqahnya, sampai ada seseorang yang marah
kepada kawan duduknya hanya karena kawannya duduk pada majelis lain
dan meninggalkan halaqahnya. Merekalah orang-orang yang amal-amal
mereka tidak akan diangkat dari majelis mereka kepada Allah.”
[Ali bin
Abi Thalib]