Senin, Maret 23, 2009

Beramal itu Mudah

dari sebuah survey kecil dengan tajuk “menurutmu, pahala apa yang paling mudah?” diperoleh mayoritas (delapan terbanyak) jawaban dengan urutan sebagai berikut:
1. senyum
2. dzikir
3. mendoakan orang
4. tidur
5. berniat baik
6. salam
7. mencintai orang karena Allah
8. sholat

ada sebuah jawaban yang cukup menarik untuk dibahas lebih dalam disini: membaca qur’an. argumen ini berangkat dari nilai pahala membaca qur’an, yaitu satu pahala untuk satu huruf. tidak sampai di situ saja, tiap pahala akan dibalas dengan sepuluh kebaikan.

mari berhitung kasar. dalam satu baris mushhaf pojok (jenis mushhaf yang pojok kanan atas adalah selalu awal ayat sedangkan pojok kiri bawah adalah selalu akhir ayat) terdapat sekitar 40 huruf (diambil sebuah sampel, yaitu baris pertama halaman kedua surat al-baqoroh). dalam satu halaman mushhaf terdapat 15 baris. artinya satu halaman terdiri dari 600 huruf. berarti dalam satu juz (20 halaman) terdapat total 12.000 huruf.

seorang dapat tilawah satu juz (secara tartil) dalam waktu sekitar 35 menit. dengan kata lain, dengan membaca qur’an kita akan memperoleh 12.000 pahala = 120.000 kebaikan dalam 35 menit saja! dan konsekuensi sebuah pahala/kebaikan itu bervariasi, dari mulai penghapus dosa, pemberi keberkahan, pengangkat musibah, sampai pemberat timbangan akhirat.

nah, dengan melihat hal tersebut maka alangkah ‘tidak waras’ jika kita masih malas membaca qur’an. betapa entengnya kita membuang 35 menit hanya untuk facebook, mendengarkan mp3, menonton film, nge-blog (ups..), chatting, melamun, dan sebagainya. padahal hari itu belum tilawah sama sekali.

kembali ke inti persoalan. bahwa ternyata beramal itu mudah. hal-hal sederhana semacam senyum dan tidur pun bisa bernilai amal yang berpahala. namun ada kuncinya: niat dan rutin.

beda nilainya antara tidur yang diniatkan agar bisa bangun untuk menonton bola (saja); dengan tidur (yang diawali do’a) yang diniatkan sebagai istirahat sehingga bisa bangun tahajjud serta memperoleh energi untuk aktivitas dan ibadah pada esoknya.

juga beda nilainya antara ikhwan yang tilawah memang benar-benar untuk tujuan tilawah (yakni: ilmu, amal, pahala, munajat, dan obat -insyAllah akan dibahas pada tulisan yang lain) dibanding ikhwan yang tilawah karena di tempat itu ada akhwat ‘incarannya’ sehingga dia diperhatikan.

niat (ikhlash dan ibadah) membuat amal-amal kecil menjadi besar nilainya; sebaliknya niat (riya, ujub, dll.) juga membuat amal-amal besar menjadi kecil nilainya.

kunci selanjutnya: rutin. tilik bagaimana bilal dijamin masuk surga karena wudhu (dan sholat syukur wudhu) yang rutin dilakukannya. sesungguhnya amalan yang kecil tapi rutin itu lebih dicintai Allah. masing-masing dari kita tentu lebih tahu, amal ‘kecil’ apa yang bisa rutin kita lakukan.

sebagai penutup, sangat indah kata-kata yang dipopulerkan aa gym, “mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang juga”. dan jangan lupa, semua kemudahan itu juga adalah bentuk nikmat dari Allah yang harus disyukuri.

wAllahu muwafiq.

Cinta dan Anticinta

cinta, sebuah kata yang sangat familiar dan mesti semua orang pernah merasakannya. jatuh cinta, adalah frase ungkapan yang pasti selalu menjadi salah satu tema kehidupan. definisinya pun beragam, setiap yang kita cinta dengan tulus berarti kita telah terpaut, memprioritaskan, membela, mengasihi, mengikuti, ingin dekat, rindu, dan sebagainya. yang kesemuanya teraktualisasi melalui niat, ucapan, maupun perbuatan. yang darinya muncul sumber kekuatan untuk membahagiakan dan motivasi bertanggung jawab lalu melahirkan amalan-amalan hati dan anggota tubuh. bahwa agaknya tepat pendapat ibnu qayyim, “tidak ada batasan tentang cinta yang lebih jelas daripada kata ‘cinta’ itu sendiri”.

ada hitam ada putih. jika ada cinta maka tentu ada lawannya. yang kecintaan itu tidak sempurna tanpa menolak lawannya itu dengan sempurna pula. perasaan saling menjauhi, berlepas, berselisih, dan semacamnya. kita kenal istilah ‘benci’. namun mengacu pada pendapat ibnu qayyim di atas, maka kita sebut saja lawan dari ‘cinta’ dengan kata ‘anticinta’.

umum berpendapat cinta dan anticinta bukan perkara remeh, ia adalah suatu yang luhur. tapi ketahuilah mungkin ia ternyata lebih luhur dari anggapan selama ini. mencintai karena Allah dan meng-anticinta-i karena Allah, sebuah perkara aqidah. artinya cinta dan anticinta adalah kewajiban syariat.

cinta dan anticinta adalah bagian dari syahadat ‘laa ilaaha illa Allah’. sebuah ikrar peng-ilah-an (yang dipuja, yang dijunjung, yang dikagumi, yang mendominasi, dan sejenisnya) hanya kepada Allah dan berlepas diri dari ilah selain Allah. ia adalah uluran tali iman yang paling kokoh yang disebutkan dalam hadits yaitu menolong dan memusuhi serta cinta dan anticinta hanya karena Allah.

ia-lah syarat untuk bisa merasakan manisnya iman. dengan menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lain. dengan mencintai yang lain dalam kerangka kecintaan karena Allah. dengan sangat anticinta kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api neraka. cinta dan anticinta yang menyempurnakan iman.

cintalah yang menjadi asas pembangun masyarakat islam, dimana tidak sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri. yang seorang menjadi kafir kepada Allah jika mencintai selain Allah dan agama-Nya serta meng-anticinta-i Allah, agama-Nya, dan pemeluknya.

masih berpendapat bahwa cinta dan anticinta adalah seperti apa yang tergambar pada kisah-kisah picisan maupun film-film kurang mutu yang berterbaran di buku, novel dan/atau media?! lupakan! masih beranggapan bahwa cinta adalah sebatas perasaan tulus-suci dua lawan jenis yang menginginkan kebahagiaan bersama?! kurang tepat! masih berparadigma bahwa cinta adalah untuk kasih sayang manusiawi kepada orang-orang dekat, orang tua, dan sahabat?! belum cukup!

secara umum ada tiga macam pihak yang padanya kita tujukan apresiasi cinta dan anticinta, yaitu:
1. yang berhak mendapat cinta secara mutlak: yang beriman kepada Allah dan rasul-nya serta menjalankan syiar-syiar agama dengan ikhlas karena-Nya
2. yang berhak mencapat cinta dan anticinta sekaligus: muslim yang bermaksiat yang mengabaikan sebagian kewajiban dan mengerjakan hal-hal yang diharamkan. tidak boleh mendiamkan, wajib menasihati dan mencegah serta dierintahkan kepada yang ma’ruf dan dilarang dari yang munkar, bahkan berlaku hukuman dan celaan sehingga mereka bertaubat.
3. yang berhak mendapat anticinta secara mutlak: yang melakukan kekufuran syar’i baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. dari kalangan muslim jika ia antara lain berdo’a dan tawakkal kepada selain Allah, mencaci Allah, rasul, agama, termasuk mencela quran, serta memisahkan agama dari kehidupan (sekuler) karena meyakini bahwa agama tidak sesuai zaman. dari kalangan non-muslim, jika ia damai maka kita hanya benci akan ketidakberimanan mereka sedangkan dalam interaksi sosial tetap saling menebar rahmat, jika ia memerangi maka kita wajib memerangi dan tidak membiarkan mereka berbuat kerusakan.

kemudian setelah akrab dengan kalimat ‘cinta karena Allah’, lalu bagaimana sebenarnya bentuk realisasi cinta karena Allah itu?
1. membela, menolong dengan jiwa-harta-lisan, membahagiakan serta ikut bahagia jika si dia/mereka bahagia dan menghindarkan kesedihan serta ikut sedih jika mereka sedih
2. mencintai segala yang dicintai untuk diri sendiri berupa kebaikan (berusaha mendatangkan kebaikan untuk si dia/mereka) dan menolak keburukan, tidak mengolok-olok, bersemangat dalam mencintai dan bergaul dengan si dia/mereka
3. memenuhi hak si dia/mereka seperti berkasih sayang, mendoakan, memohon ampunan baginya, mengucap salam, tidak merugikan dalam bermuamalah, menjenguk, dan mengiring jenazahnya
4. tidak mengganggu, mendamaikan perselisihan di antara mereka
5. bergabung bersama dalam jamaa’ah, tidak berpisah, tolong menolong atas kebajikan dan taqwa, amar ma’ruf nahi munkar

sungguh islam adalah agama yang penuh cinta dan di sisi lain juga memiliki anticinta atas dasar kebenaran. siapa yang tidak mencintai maka ia tidak akan dicintai. kita semua mendambakan bisa menjadi orang yang dicintai karena Allah. oleh karena itu hendaknya terlebih dahulu kita berusaha mencintai orang lain karena Allah. kemudian berusaha menjadi pribadi yang memang layak untuk dicintai karena Allah. tentunya pembahasan ini juga mencakup kasus yang mengusik kaum muda: cinta kekasih.

semoga Allah menganugerahkan rasa cinta dan anticinta yang haq ke dalam hati kita semua.

[terinspirasi dari pengalaman acara 'survival'. saat panitia menyuruh peserta untuk membuat pesan terakhir karena tidak menjamin apakah pada prosesnya akan selamat hidup atau tidak. teruntuk orang-orang yang kutulis di lembar wasiat kala itu: aku cinta kalian semua karena Allah]